Google
 

Monday, November 13, 2006

Misi Rahasia Bush

Rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), George W Bush, ke Indonesia menjadi isu paling disorot. Padahal, orang nomor wahid di AS itu baru akan mendarat di Indonesia pada 20 Nopember mendatang. Media massa --cetak maupun elektronika-- sibuk mengulasnya. Demonstrasi bergema di mana-mana menentang kedatangan Bush. Bahkan mantan wakil presiden, Hamzah Haz, ketua MPR RI, serta sejumlah elite DPR (Republika, 8/11/06), termasuk sebagian besar tokoh ormas Islam lainnya sangat keberatan dengan kedatangan Bush. Apalagi, pengamanan terhadap Bush tampak berlebihan.

Seperti dilansir sejumlah media massa, pengamanan terhadap kunjungan Presiden Bush langsung berada di bawah koordinasi Mabes TNI dengan Panglima Kodam Jaya sebagai pengendali operasi pengamanan. Polda Metro Jaya pun ikut sibuk. Sekitar 18 ribu personel terdiri dari Brimob, Sabhara, Serse, Intel ditambah penembak jitu (sniper) akan dikerahkan untuk mengamankan orang nomor satu di AS itu.

Itu belum termasuk kebiasaan Mr Bush yang di setiap kunjungan kenegaraan selalu melibatkan sedikitnya 250 agen rahasia (CIA), 150 penasihat keamanan nasional, 15 tim anjing pelacak, kendaraan bersenjata dan sejumlah pesawat serta helikopter tempur. Pertemuan antara Presiden Bush dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan berlangsung di Istana Bogor.

Jika kita mau jujur, kedatangan Bush ke kota hujan ini terasa amat merepotkan. Lingkungan Istana Bogor yang menjadi lokasi kunjungan Bush, misalnya, berubah super sibuk. Dua helipad disiapkan untuk mendaratnya helikopter yang akan membawa Presiden Bush. Jaringan telepon seluler di sekitar istana juga bakal diputus selama 10 jam. Kebun Raya Bogor yang menyatu dengan Istana Bogor dan dibangun pada 18 Mei 1817 itu tak lagi rimbun. Daun 10 bunga teratai raksasa Victoria Amazone berukuran satu meter yang sangat langka pun terpaksa dibabat. Wajar, jika DPP PDI Perjuangan sampai berkirim surat protes keras kepada Presiden SBY karena mengorbankan konservasi lingkungan hanya demi kepentingan politik.

Misi rahasia


Pertanyaan besar yang layak diajukan adalah: untuk apa Bush ke Indonesia? Selama ini pemerintahan SBY selalu menegaskan pada pembahasan enam hal. Yakni, investasi AS di Indonesia yang kini meliputi 205 proyek, utamanya bidang energi; keamanan suplai energi; pendidikan; kesehatan; sistim peringatan dini; dan teknologi informasi. Tetapi, dalam hemat penulis, Presiden Bush sebenarnya tengah membawa setumpuk misi rahasia sebagai berikut:

Pertama, kontraterorisme. Seperti kunjungan Menlu AS Condoleezza Rice (14 Maret 2006) dan Menhan AS Rumsfeld (6 Juni 2006), Bush bertandang ke Istana Bogor pastilah untuk meminta keseriusan SBY dalam memerangi terorisme. Selain Pakistan, Afghanistan, Suriah, Yaman, Iran dan Arab Saudi, Indonesia memang divonis AS sebagai 'markas fundamentalis, ekstremis dan teroris'.

Serangkaian aksi teror dari bom Bali I (12 Oktober 2002), bom Marriott (5 Agustus 2003), bom Kuningan (9 September 2004) hingga bom Bali II (1 Oktober 2005) diklaim dilakukan oleh sekelompok orang yang terkait langsung dengan sel-sel Alqaidah baik di kawasan Timur Tengah maupun Asia Selatan. Jakarta makin terjepit posisinya untuk mengelak dari war on global terrorism yang dipimpin Washington. Apalagi, gertakan Bush beberapa hari pascaambruknya Gedung WTC (11 September 2001) sangat jelas bagi semua negara, termasuk Indonesia, yaitu either you side with us or with terrorists (mendukung kami atau memihak teroris).

Proaktif menjegal Cina


Kedua, containment of China (membendung pengaruh Cina). Kunjungan Presiden SBY ke Cina 27-31 Oktober 2006 tentu saja meresahkan AS. Bagi Indonesia, penandatanganan kontrak kerja sama energi Jakarta-Beijing senilai 4 miliar dolar AS (Rp 38,6 triliun) jelas menguntungkan. Itu belum termasuk kesepakatan Presiden SBY dan Presiden Cina, Hu Jintao, untuk menaikkan volume perdagangan RI-Cina sampai 20 miliar dolar AS di tahun 2008 mendatang. Pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu sebesar 9,1 persen tak diragukan mencemaskan AS.

Status Paman Sam sebagai negara terkuat baik secara militer maupun ekonomi bisa terancam. Tak salah bila Joseph Nye, analis kondang Harvard University, dalam tulisannya (Journal of Foreign Affairs, 2004) misalnya, menyebut Cina sebagai strategic competitor (pesaing strategis), bukan strategic partner (mitra strategis). Prediksi Nye amat sesuai dengan Letjen ZA Maulani (kini almarhum) dalam bukunya 'Jamaah Islamiyyah & China policy” (Jakarta: Daseta, 2004).

Mantan kepala Bakin di era pemerintahan BJ Habibie ini membeberkan ambisi Beijing memimpin Asia-Pasifik. Posisi Cina dalam mempersatukan negara-negara Asia Tengah di bawah payung Shanghai Cooperation Organization (22 September 2003) juga membuat impian Washington menyedot minyak Asia Tengah makin sulit terwujud. Bahkan, anggaran pertahanan Cina sebesar Rp 560 triliun menempatkan Beijing di urutan ketiga dunia setelah AS dan Rusia. Karenanya, Bush sangat berkepentingan agar Indonesia proaktif dalam menjegal kemunculan Cina sebagai raksasa ekonomi dan militer di kawasan Asia-Pasifik.

Ketiga, meminta dukungan RI soal Iran. Bush nampaknya ingin agar posisi Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB mendukung kebijakan AS untuk menggelar mesin perang terhadap Teheran. Jika pemerintah SBY mengaminkan keinginan Washington, maka negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia ini diharapkan Bush dapat meminimalisir kemarahan komunitas Muslim Timur Tengah.

Setelah Afghanistan dihujani bom (7 oktober 2001) dan Irak digempur (20 Maret 2003), perang membasmi jaringan Alqaidah dan membombardir stated-sponsored terrorism (negara pendukung aksi teror) dinilai Gedung Putih belum usai. Iran --negara yang diklaim AS sebagai bagian dari poros kejahatan atau axis of evil sejak 1 Januari 2002-- diperkirakan target lanjutan rudal-rudal militer AS dan sekutunya. Terlebih, Pemerintah Presiden Mahmoud Ahmadinejad masih bersikeras melanjutkan program pengayaan uraniumnya (baca: nuklir) meski Uni Eropa menawarkan bantuan ekonomi bila Iran menghentikannya.

Bush mungkin akan menyodorkan bukti-bukti keberadaan weapons of mass destruction (senjata pemusnah massal) Iran agar Presiden SBY tidak ragu berada di sisi Amerika. Walhasil, pemerintahan SBY perlu lebih bersikap waspada dan hati-hati dalam mengantisipasi agenda menyesatkan yang diusung Bush. Apabila Pemerintah SBY tak lagi merasa memiliki harga diri dan wibawa, maka sejarah akan mencatat bahwa negeri ini memang tidak berdaulat (sovereign) dan yang lebih menyedihkan lagi tentunya 'miskin pemimpin yang tangguh'. Menurut penulis dan juga mungkin Anda, Presiden SBY, juga para pemimpin setelahnya, seyogianya 'mampu' bersikap tegas seperti almarhum Soekarno yang berani berteriak 'Amerika kita seterika, Inggris kita linggis'. Semoga!

Ikhtisar

- Pengamanan terhadap kedatangan Bush memang tampak berlebihan.

- Enam agenda utama kedatangan Bush ke Indonesia yang dinyatakan resmi pemerintahan SBY menyimpan misteri.

- Di balik enam agenda utama, Bush membawa misi rahasia soal kampanye kontraterorisme, upaya untuk membendung pengaruh Cina, dan ajakan agar RI mendukung AS dalam menggulirkan isu nuklir untuk menghadapi Iran.

- Pemerintah RI perlu lebih waspada terhadap agenda menyesatkan yang berada di balik kedatangan Bush.

Friday, August 25, 2006

Kebangkitan Islam Abad Ke-21?

Agresi militer Israel ke Palestina dan Libanon memang tak bisa dicegah. Kecaman masyarakat internasional tak digubris Tel Aviv. Zionis Israel seakan nampak begitu pongah dengan kehebatan kekuatan bersenjatanya. Negeri berpenduduk 6.2 juta jiwa ini memang paling terkuat secara militer di kawasan Timur Tengah.

Selain dikucuri dana sebesar 3 miliar dolar AS per tahun oleh AS, Israel memiliki transaksi pembelian senjata sebesar 6,3 miliar dolar AS dengan Pentagon. Sebanyak 20 persen defence budget Tel Aviv untuk tahun 2006, misalnya, ditalangi Washington. Kecanggihan peralatan militer seperti jet tempur F-16, F-14 dan F-18 serta rudal Tomahawk yang dimiliki Israel ke semuanya dipasok AS. Bahkan, militer negeri Zionis ini paling terandal di seluruh kawasan Timur Tengah. Itu belum termasuk 200-300 hulu ledak nuklir yang disimpan Israel sejak lama. Apalagi, pemerintah Israel -selain India dan Pakistan- tidak pernah menandatangani Pakta Non-Proliferasi Nuklir 1960 (NPT) sehingga ia bebas membeli atau mengembangkan senjata pemusnah massal itu.

Sikap Tegas
Dalam hemat penulis, perilaku ekspansionis Israel di kawasan Timur Tengah masih bisa ditahan dengan setidaknya tiga kekuatan. Pertama, PBB. Jika DK PBB masih berniat menjaga perdamaian dunia, maka pengiriman pasukan ke Timur Tengah untuk mengusir tentara Israel dari Palestina maupun Libanon merupakan keharusan. Ini terlepas dari sikap pesimisme dan kebosanan yang melanda masyarakat internasional bahwa PBB, lembaga yang didirikan di tahun 1945, selama ini kerap terbukti hanya mampu mengecam atau mengeluarkan resolusi tanpa implementasi. Karena itu, diperlukan keberanian negara besar seperti Prancis, Rusia dan Cina untuk menggertak Amerika Serikat yang selalu memveto setiap keputusan DK PBB yang dianggap merugikan Israel.

Kedua, Nasionalisme Arab. Sejarah membuktikan bahwa Bangsa Arab pernah mampu menggalang persatuan untuk menggelar mesin perang dengan Israel. Perang Arab-Israel di tahun 1948, 1956, 1973, dan 1982 adalah bukti kongkrit kemampuan negara-negara Arab melawan negeri Zionis itu (Bernard Lewis, The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror, Great Britain: The Orion, 2003).

Jika PBB tidak lagi memainkan peran, maka saatnya Bangsa Arab kembali meneriakkan slogan ''Nasionalisme Arab'' yang dulu digagas almarhum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Yang sampai sekarang dipermasalahkan adalah minimnya sentimen nasionalisme di kalangan negara-negara Arab. Andai para pemimpin di Arab Saudi, Mesir, Yordania, Iran, Suriah, Sudan, Yaman, Uni Emirat Arab, Qatar, Maroko, dan Libya belum melupakan konsep Pan-Arabisme versi Nasser, bisa dipastikan Israel terhapus dari peta Timur Tengah.

Ketiga, keberanian OKI. Israel juga bisa mudah dihancurkan bilamana negara-negara Muslim yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) mau menjajal keberanian mereka. Selama ini, OKI hampir tidak jauh beda dengan PBB: Sebatas mengecam dan mengutuk setiap tindak kekerasan militer yang dilakukan tentara Israel. Afghanistan dihujani bom (2001), Irak dirudal (2003), tapi OKI diam seribu bahasa. Agresi Israel ini merupakan momen yang tepat untuk menunjukkan taring OKI yang sebenarnya. Sungguh memalukan jika jumlah umat Islam yang mencapai 1,3 miliar jiwa benar-benar ''banci'' hanya untuk menghadapi 16 juta orang Yahudi di muka bumi ini. Apabila OKI ternyata tetap ''impoten'' dalam mencegah perilaku brutal Zionis Israel, maka tak diragukan lagi OKI termasuk PBB sudah harus cepat-cepat dikafani untuk dikuburkan secara massal.

Kebangkitan Islam?
Apabila keberanian OKI dianggap sebagai benturan peradaban, mungkin sudah saatnya. Pun tak perlu dicemaskan analisa Samuel P Huntington dalam bukunya ''Clash of Civilizations and the Remaking of New World Order: 1995''.

Salah satu mufassir Islam kenamaan, Ibnu Katsir, bahkan ratusan tahun sebelum Huntingnton dilahirkan telah memprediksikan bakal terjadinya ''at-Tashoodum al-Hadhlori'' (benturan peradaban). Abad ke-21 sangat boleh jadi merupakan abad kebangkitan Islam di jagat raya ini. Jika sejarah masih dianggap relevan untuk ditelisik ulang, maka Islam muncul di abad ke-6 Masehi. Dari zaman Rasulullah SAW sampai Dinasti Abbasiyah (1258), Islam menjadi ''The Greatest World's Civilization'' (peradaban terbesar di muka bumi).

Di awal abad ke-13, kejayaan peradaban Islam benar-benar sirna. Jika hitungan matematika berskala grafik digunakan, sebenarnya Islam muncul dan sukses selama tujuh abad, kemudian mundur selama tujuh abad pula. Artinya, abad ke-21 (tujuh ratus tahun pasca kemunduran) harus menjadi abad kebangkitan umat Islam. Angka tujuh memang menyimpan misteri. Dalam sepekan, jumlah hari adalah tujuh. Surat al-Fatihah (yang masyhur disebut Ummul Quran) berjumlah tujuh ayat. Langit dan Bumi diciptakan Allah SWT dalam tujuh hari tujuh malam.

Lapisan langit pun berjumlah tujuh. Karena itu, setelah sukses selama 7 abad dan redup selama tujuh abad, maka di abad ke-21 (atau tujuh abad kemudian) inilah Islam tak syak lagi harus berjaya.

Lalu, benarkah invasi Israel tahun 2006 ini menjadi salah satu tanda bangkitnya umat dan peradaban Islam? Semoga. Wallahu a'lam bisshowab.***

Abdul Halim Mahally, Kelahiran Selatpanjang, Kabupaten Bengkalis, Riau.
Kandidat doktor pada University Harvard, USA.